Minggu, 14 Februari 2010

Menjawab Cerpen Bunda


Menjawab Cerpen Bunda...
07 Februari 2010 jam 12: 26
Cerita cinta artha 3
Hanya saja, kamu ragu dan tidak percaya!
Pagi hari ini, udara Bandar Lampung begitu segar. Jalan raya pun masih sepi, tidak banyak kendaraan bermotor maupun mobil yang lewat, mungkin dikarenakan hari libur. Aku dan Bundaku pun seperti biasa, di hari minggu selalu menyempatkan untuk lari pagi, selain sudah jadwal rutin mingguan, lari pagi ini juga untuk merefresh diri sekalian membina jasadiyah dengan sedikit lari-lari.
“Ayo donk Nak, semangat! Ayo kejar Bunda!” ucap bundaku dari kejauhan di depan. Dia semangat sekali sepertinya lari pagi kali ini.
“iya.. tunggu ya!” balas ku dari kejauhan.
Bunda menunggu ku diposisinya, aku pun dengan lari-lari kecil menuju kesana, hingga akhirnya aku sampai disampingnya.
“istirahat dulu ya Bund... ok? sepertinya enak untuk duduk-duduk di taman ini...” ucapku singkat sambil menghirup nafas dengan terengeh-engah.
“Yaah artha, gimana sih.. gak biasanya banget deh, baru seperempat jalan udah nyerah..” balas bundaku cemberut
“iya maaf, gak tau nih, hari ini artha lemes..” jawabku sambil duduk disebuah bangku di bawah pohon besar. Pohon ini memang pohon terbesar di taman ini, dan menjadi tempat berteduh favorit orang-orang yang berolahraga, tapi karena masih sangat pagi, jadi memang belum terlalu banyak orang ditaman ini.
“ya udah deh, mau gimana lagi.. nih minumnya, kelihatannya kamu emang capek deh..” ucap bundaku sambil ikut duduk disampingku dan menawarkan sebotol minuman air mineral.
“makasih bundaku yang bijaksana... udah mau ikut istirahat demi anaknya... cieeee...” ucapku pada bundaku sambil sedikit meledek.
“ah kamu! Segini aja udah capek, apalagi kalau ikut lari maraton kayak liburan bunda kemarin, pasti deh udah gak kuat....“ ucap Bundaku sambil ikut menyandarkan tubuhnya pada bangku.
sambil menyeka keringat.. kami beristirahat…
bunda boleh bertanya padamu tha???
“hmmmm..... hmm...boleh ” jawabku.
“kenapa?” tanyaku.
“Anakku, apakah orang yang tidak berani nikah juga berarti ragu pada jaminan Allah, misal ragu akan rizki Nya?” tanya Bundaku singkat.
“Heh?? Pertanyaan apa itu?? Ya kalau itu harus dilihat dari berbagai aspek Bunda, apa yang menyebabkan dia belum berani menikah. Ingat, berbagai aspek lho. Bisa karena ilmunya, hatinya belum mantep, atau memang belum ada (maisyah) nya. Tapi keraguan yang Bunda sebut tadi juga bisa saja menjadi salah satu indikator pada sebagian orang.... Pokoknya permasalah kita adalah, yakin tidak kita pada jaminan dan janji Allah dan istiqomah tidak kita menapaki jalan Allah....” ucapku.
“Artha percaya atas jaminan Allah?” tanya Bundaku lagi.
“Harus !!!” jawabku semangat.
“Laluu, kenapa sampe sekarang belum ada niat nikah!!! Ahahaaaahaa... katanya yakin! Ahahaaa....” ucap bundaku sambil berdiri dan menghindari ku sambil berlari.
“Yeee.. kan itu harus dilihat dari berbagai aspek atuuh...” ucapku membela diri.
“Huuuu... alesan.!!! AhahaaaaHaaaha....” ucap Bundaku sambil terus berlari ngeledek dan jilbabnya terlihat berkibar.
“awas ya! Artha kejar....” ucapku sambil mencoba mengejar si Bunda.
Yaaah pagi yang rame... Yuk ah mau lanjutin lari pagiiii lagi, sehat dan seger, apalagi kalo lari pagi berdua ma pacar atau kekasih, asik kali ya? Lho? *gak tau deh!* lariiii
Nyinggung nih bunda!!!
Dalam perjalanan aku berfikir,..bunda memang orang hebat,selalu member i support..padahal bunda tahu kalau aku sedang patah hati karena dia.Terima kasih Tuhan kau ciptakan bunda yang baik ini untukku..”ampuni dosanya bundaku sayangilah bundaku..berikanlah umur yang panjang sampai dia melihat cucunya dariku. amien.
Sosok Bunda Kami
Engkau adalah sosok wanita yang indah wahai Bundaku…
Engkaulah sosok yang paling berjasa dalam mendidik keluargamu,
kelak dalam menjalani kehidupan ini.
Engkaulah yang paling pintar akan mendidik anak-anakmu
menjadi anak yang sholeh dan sholeha….

Wahai Bunda tidakkah engkau pernah mendengar kalimat ini:
Kami mendoakanmu selalu
Kami meridukanmu selalu
Kami berikrar , kami akan setia selalu
Bunda… Bunda.. Bunda….

Kebaikan mu Bunda…
Tidak dapat di ukur
Yang kurang menjadi mampu
Yang kelaparan menjadi kenyang
Yang menahan dahaga jadi hilang hausnya
Yang susah hati menjadi riang gembira
Yang sakit menjadi sehat
Bunda mempunyai hati yang lembut
Dan segalanya…
Terima kasih Tuhan…
kebaikan-MU bisa mengubah dunia
Terima kasih Bunda..
Terima kasih…… amin..

By artha. Minggu 07022010

Tidak ada komentar: